Tanya kebanyakan pekerja profesional di Jakarta apakah mereka punya asuransi kesehatan, dan mereka bilang punya, dari kantor. Jawaban itu benar sekaligus tidak lengkap, dengan cara yang baru terlihat pada saat paling buruk.
Tiga syarat yang jarang disebut
Pertama, ia terikat pada pekerjaan Anda. Resign, terkena restrukturisasi, atau terlalu sakit untuk bekerja, dan proteksinya ikut pergi bersama kartu pegawai.
Kedua, ia biasanya punya plafon tahunan yang jauh di bawah biaya kejadian serius. Seratus juta rupiah terdengar besar sampai Anda menghitung setahun pengobatan kanker di rumah sakit swasta.
Ketiga, ia jarang mengikuti keluarga Anda seperti yang Anda kira. Pasangan dan anak bisa dibatasi terpisah, atau dikecualikan di atas jumlah tertentu.
Jebakan keterasuransian
Ini bagian yang hampir tak pernah diberitahukan pada siapa pun. Asuransi pribadi dihargai berdasarkan kondisi kesehatan Anda saat mengajukan. Asuransi kantor tak menanyakan apa-apa. Jadi orang mengandalkan asuransi kantor sepanjang usia tiga puluhan yang sehat, lalu mencoba membeli polis sendiri setelah diagnosis pertama, saat kondisi yang kini mereka miliki justru itulah yang dikecualikan.
Keterasuransian adalah aset yang diam-diam menyusut nilainya. Ia paling berharga justru saat Anda merasa paling tak membutuhkannya.
Apa yang harus dilakukan tanpa berlebihan
Anda tak perlu menggandakan asuransi kantor. Anda perlu satu lapisan di bawahnya yang Anda miliki sendiri: sesuatu yang membayar terlepas dari perusahaan, dan sesuatu yang menggantikan penghasilan, bukan sekadar mengganti kuitansi. Mulailah dengan mencari plafon tahunan polis Anda sekarang dan membandingkannya dengan satu skenario yang realistis.
