Hampir tiap percakapan soal proteksi kesehatan di Indonesia dimulai di tempat yang salah: apakah BPJS bagus atau buruk. Ia bukan keduanya. Ia program nasional dengan desain tertentu, dan begitu Anda paham desainnya, Anda bisa lihat persis di mana ia melindungi Anda dan di mana ia mengembalikan masalahnya.
Ia menanggung pengobatan, bukan kenyamanan
BPJS membayar perawatan yang secara medis diperlukan lewat sistem rujukan berjenjang. Anda mulai di fasilitas tingkat pertama, puskesmas atau klinik terdaftar, dan naik hanya dengan rujukan, kecuali dalam keadaan darurat sesungguhnya. Struktur itulah yang menjaga skema ini tetap terjangkau. Itu juga kenapa orang yang berharap bisa langsung masuk rumah sakit swasta besar dan dirawat sore itu juga merasa kecewa.
Akibat praktisnya adalah waktu. Untuk sakit ringan, waktu itu ketidaknyamanan. Untuk benjolan yang mencurigakan, waktu adalah segalanya.
Kelas Anda menentukan batas, bukan cuma kamar
Kelas menentukan kamar yang jadi hak Anda, dan kelas kamar ikut masuk ke sejumlah perhitungan tarif di balik perawatan Anda. Kalau Anda naik melebihi hak Anda, selisihnya Anda yang bayar, dan pada rawat inap yang panjang selisih itu tidak kecil.
Sebagian hal sepenuhnya di luar skema
Prosedur kosmetik, program kesuburan, cedera yang disengaja, dan perawatan di luar negeri umumnya di luar tanggungan. Begitu juga sebagian obat baru yang belum masuk formularium nasional, dan ini paling terasa di bidang kanker, tempat terapi terbaru sering justru yang sedang dibicarakan.
Celah yang benar-benar menyakitkan
Angka yang merusak keuangan keluarga jarang tagihan rumah sakit semata. Ia tagihan ditambah berbulan-bulan penghasilan yang hilang saat seseorang pulih, atau saat pasangan berhenti bekerja untuk merawat. BPJS tak pernah dirancang untuk menggantikan penghasilan. Tak ada bagian dari skema ini yang melakukannya.
Jadi cara jujur memikirkannya: pertahankan BPJS, selalu. Lalu tanyakan hal yang jauh lebih sempit, berapa biaya penyakit tertentu ini dalam uang yang masih harus saya cari sendiri?
