Proteksi kesehatan di Indonesia bukan satu produk. Ia tiga lapisan yang dibuat pada waktu berbeda, untuk tujuan berbeda, oleh pihak berbeda. Kebanyakan kebingungan muncul karena kita berharap satu lapisan berperilaku seperti lapisan lain.
Lapisan pertama: BPJS Kesehatan
BPJS adalah program kesehatan nasional, dan keikutsertaannya wajib bagi penduduk. Anda membayar iuran bulanan, terdaftar di fasilitas tingkat pertama, lalu naik ke rumah sakit lewat rujukan. Ia menanggung cakupan yang benar-benar luas untuk perawatan yang secara medis diperlukan, termasuk kondisi serius dan mahal.
Yang tidak jadi tujuannya adalah kecepatan, kebebasan memilih rumah sakit, atau obat baru di luar formularium nasional. Itu keputusan desain, bukan kegagalan.
Lapisan kedua: asuransi kantor
Banyak perusahaan menambahkan asuransi kesehatan kumpulan dengan plafon tahunan, manfaat rawat inap dan rawat jalan, serta jaringan rumah sakit yang bisa Anda datangi tanpa rujukan. Ini berguna, dan gratis bagi Anda. Tapi ia berakhir saat pekerjaan berakhir, dan biasanya punya batas tahunan yang bisa terlampaui hanya oleh satu tahun sakit berat.
Lapisan ketiga: asuransi kesehatan atas nama Anda sendiri
Polis atas nama Anda ikut pindah antar pekerjaan dan antar negara, dan Anda yang memilih plafon serta kelas rumah sakitnya. Lapisan ini butuh biaya tiap tahun entah dipakai atau tidak, dan justru itulah inti asuransi: membayar sejumlah kecil yang pasti agar sejumlah besar yang tak terduga tidak jadi beban Anda sendirian.
Cara memikirkan ketiganya sekaligus
Pertahankan BPJS. Baca polis kantor Anda supaya tahu plafon tahunannya. Lalu tanyakan satu hal yang sempit: kalau sakit berat tahun ini menghabiskan ratusan juta rupiah dan menghentikan penghasilan saya berbulan-bulan, bagian mana yang jatuh ke saya?
Angka itu, bukan brosur, yang memberi tahu apakah Anda butuh lapisan ketiga dan seberapa besar.
